Biar perut kelut mengelut, ikhlas seluas
laut
Setapak
kaki, jalan tanpa hati iri
Meraba-raba
akhir teori
Tuhanku
Welas
yang malas dilepaskan orang kalangan
Diatas,
diatas mereka bebas duduk di kursi rampas
Padahal
jeritan jelata merajalela
Ah,
kenapa berfikir begini
Sudahlah,
Dunia
berjalan bengispun itu tak jadi dramatis
Titik
koma, hitam putih, pahit manis jalanku
Ini
hasilnya, ini bentuknya
Dari
yang Maha Adil, Tuhanku
Bertanyalah
si tua renta,
“Kau
rela sungguh?”
Maaf,
Menjawablah sesaat
“Tentu”
Aku
harus cepat pulang, segera mengejar senja
Dirumah
kardus terhangat
Dua
anak angkat dan istri berkat izabah shalat
Setia
menungguku
Dua
kepal nasi dingin, ku punya sisa kemarin
Ku
bawakan buat mengganjal
(Esok
nikmat pasti berlipat, semoga)
Aku
sampai, aku pulang, darah dagingku melompat-lompat
“Ayah,
bawa apa sekarang, ayah bawa banyak jajanan kan?”
Begitu
berharap
Tuhan,
lapangkan anakku
“Iya,
tidurlah semalam. Yang Esa pasti tepat janji.” Ucapku
Biar
perut kelut mengelut, ikhlas seluas laut
Setapak
kaki, jalan tanpa hati iri
Meraba-raba
akhir MU
(Esok
nikmat pasti berlipat, semoga)






