Bukan main kerasnya suara hati
Ketika sisi gelap dan terangku berperang syahdu
Menggebu kelam terselip debu dipulang malam
Sama lainnya saling berseteru
Dan aku harus meluruskan sebuah lika liku
Jangan yang harus ataukah tak harus
Peningnya tak terbayang, rasanya begitu pinang
Membingungkan! Hingga sampai suatu waktu
Ku bulatkan di dada bulat padat
Bisakah diriku, yang diriku tak bisa dari yang aku bisa
Ukh peningnya tak terbayang bagai lekang
Lika-liku jangan mendekat lagi, kumohon jangan!
Demi dia, akan ku cium kakimu
Tapi, “lika-liku” bersumpahlah jangan mendekat
Berjanjilah menjauh cepat, akan ku cium kakimu
Rela ku jilati langkahmu
Aku siap, demi Allah, demi dia
Karena dia, demi Allah aku siap
Dan aku terisak, oh bukankah aku lelaki rusak
Bisakah diriku, maukah dirinya,
Apakah hatinya yang diriku tak bisa
Pastinya disambut apa adanya
Tentang bagaimana,
Entah bagaimana aku menjanjikannya
Entah bagaimana aku menjanjikannya
Bukan main menggebu (hati belum bersih, sebab kelam)
Bukan main genderang seteru
Bukan main mengharu pilu, penuh biru
Sampai suatu waktu aku memberanikan diri
Bulatkan nurani, ku ikuti utuh bulat padat
Aku takut, Aku takut, Aku takut, Aku takut,
Janji dengarlah ketakutanku, ketakutanku!!
Ya Allah takdirmu bagai pinang
Aku resah dimainkannya
Maaf, ampun aku peningnya tak terbayang
Dan takutnya terus mencekam
Aku mohon jangan hentikan sampai diparuh nadir
Aku mohon jangan hentikan sampai di indah begitu saja
Aku mohon jangan hentikan setengah jalan
Aku mohon jangan hentikan temanku menjalar wanginya
Aku mohon jangan hentikan
Yang sudah Kau kenalkan padaku
Yang sudah Kau kenalkan padaku
Aku mohon, Aku mohon, hamba mohon, hamba mohon
Hambamu ya Khaliq ya hambamu
Dulu kau tulis aku sepi sendiri, mati hati tertutup sunyi
Ini disini kau bingkiskan dia
Jangan hilangkan! Aku takut, aku takut
Bukan main kerasnya hati meski hati belum bersih
Ketika sisi gelap dan terangku berseteru syahdu
Terselip debu disuatu waktu (maaf “rinduku”, maaf, maaf)
Rasanya begitu pinang, membingungkan taqdirmu
Kau catat aku mati hati, dulu
Kau bingkiskan dia sebagai harga, sekarang
Dan sampai suatu waktu kau hentikan cintanya
Kau redupkan tulusnya, aku takut, aku takut
Sampai-sampai kau ciptakan iblis lika-liku
(tunggu dulu, astagfirullah..) ya Allah, ya Allah
Seandainya ku melihat-Mu, ku peluk rizki-Mu
Seandainya ku melihat-Mu, ku cium kakimu
Ku ciumi kakimu
Aku salah! Sebab ketakutanku lebih-lebih
Ya Allah Maha Pengasih, aku resah dimainkannya
Maaf, ampuni aku
Dan aku terisak (sayangku, aku dilema dibaris terakhir,
demi Allah dan karenamu, tak mau ku ulangi)
Hingga sampai suatu waktu
Ku bulatkan tekad padat di dada
Bersatu tak terbatas waktu, meminangmu






